Saturday, 19 September 2015

Spy

Score: 7.4/10
"Nothing kills me. I'm immune to 179 different types of poison. I know because I ingested them all at once when I was deep undercover in an underground poison-ingesting crime ring." - Rick Ford

Sukses dengan film-film bertemakan action-comedy, Paul Feig kembali menyapa penonton lewat Spy setelah membesut The Heat dua tahun lalu. Sutradara yang di tunjuk untuk menangani Ghostbusters yang rilis tahun depan ini juga menggaet kembali Melissa McCarthy untuk menjadi ujung tombak film yang mengangkat kisah agen CIA ini setelah kerjasama dengannya di The Heat. Rilis berdekatan dengan Avengers: Age of Ultron ternyata tidak membuat mereka gentar untuk dapat memperoleh banyak keuntungan di tangga box office Mei lalu.

Seorang yang ada di balik layar setiap agen lapangan CIA, Susan Cooper (McCarthy) memutuskan untuk terjun langsung ke lapangan karena semua agen lapangan yang menangani kasus penjualan bom nuklir telah mati atau di ketahui namanya. Sharon (Chaffin) memberikan misi untuk Susan hanya untuk melacak dan melapor. Namun karena kematian partnernya, Bradley Fine (Law), Susan malah bertindak lebih jauh karena menyimpan dendam sendiri kepada sang target, Rayna Boyanov (Byrne). Masalah juga lebih runyam ketika agen kenamaan Rick Ford (Statham) tidak setuju agen non-lapangan diturunkan untuk menyelesaikan tugas yang ingin ia selesaikan, justru bergerak sesuka dirinya untuk membereskan dan mencari tempat bom nuklir itu berada. Susan nyatanya telah bergerak lebih dari yang mereka perkirakan, ia berhasil menjadi teman Rayna dengan mengaku bahwa ia adalah bodyguard utusan sang ayah Rayna yang telah meninggal Tihomir Boyanov (Rawi). Kini, Susan harus menahan diri untuk membalaskan dendam Bradley dan bersabar diri untuk melacak dimana Rayna menyembunyikan Bom Nuklir tersebut.

Friday, 18 September 2015

Little Big Master

Score: 8.0/10
"Mimpi saya adalah menjadi guru yang baik. Yang menunggu 5 dari kalian di pintu sekolah di setiap paginya. Itulah hal yang bisa membahagiakan saya yang bisa saya impikan."

Di adaptasi dari kisah nyata sebuah sekolah kecil di Hongkong. Di sutradarai oleh Adrian Kwan sekaligus naskahnya di bantu oleh Hannah Cheung. Film ini berhasil mendapatkan respon positif di dunia internasional dan juga sukses besar dari segi box office sendiri di negara-nya. Bertema-kan pendidikan layaknya "Laskar Pelangi"-nya Indonesia, Film ini penuh dengan pesan moral yang tak jarang akan membuat orang tersentuh bahkan menangis mulai dari pertengahan film. Tak lupa pula menggaet artis kenamaan Hongkong Miriam Chin Wah Yeung dan Louis Koo, di perkirakan film ini dapat meraih berbagai penghargaan saat festival film di negara mereka sendiri nanti.

Lui (Wah Yeung) baru saja di keluarkan dari jabatannya sebagai kepala sekolah di sebuah sekolah SD ternama karena ingin memindahkan seorang anak yang tak tahan berada di kelas percepatan ke kelas reguler. Orang tua yang tak lain adalah salah satu penyokong dana sekolah itu tak terima dengan keputusan Lui. Lui adalah tipe guru yang mementingkan perasaan anak-anak nya sehingga keputusan itu membuat ia berhenti bekerja disana. Begitu pula dengan suaminya yang bekerja sebagai penata dekor di museum, Tung (Koo). Di akhir masa pekerjaan mereka, Lui dan Tung berencana memulai perjalanan keliling dunianya setelah tumor yang di derita Lui terobati. Di masa senggangnya itu, Lui melihat TK Yuen Tin membutuhkan seorang kepala sekolah dengan gaji kecil agar TK itu bisa bertahan. Hanya dengan lima orang murid perempuan, Kui merasa hatinya terketuk untuk mengajar disana. Lui juga berusaha menuntaskan permasalahan masing-masing murid di TK nya itu dengan mengunjungi setiap rumah mereka. Mirisnya, hal itu membuat Lui semakin ingin cinta kepada anak-anak itu sehingga melupakan janji-nya dengan sang suami. Puncak intrik-pun terjadi ketika salah satu anak-nya harus lulus akhir semester dan TK akan di tutup jika murid kurang dari 5 orang. Perjuangan Lui beserta orang tua murid pun semakin di uji untuk menemukan murid baru agar TK Yuen Tin dapat terus berjalan.

Wednesday, 16 September 2015

Everest

Score: 8.0/10
"I have kids. If they see that a regular guy can follow impossible dreams, maybe they’ll do the same." - Doug Hansen

Di bintangi para aktor papan atas sudah menjadi jaminan kesuksesan film ini baik dari segi komersil maupun kualitas akting. Sedangkan sineas peraih Best Foreign Language di ajang Oscar 2013 lewat The Deep, Baltasar Kormakur juga turut meramaikan jajaran crew sebagai sutradara sekaligus produser disini. Film ini di adaptasi langsung dari novel berjudul Into Thin Air karangan Jon Krakauer, seorang jurnalis majalah Outside yang mendokumentasikan langsung pengalaman tragisnya mendaki puncak tertinggi gunung tersebut ditengah badai bencana besar yang datang pada tahun 1996 silam. Alih-alih 8 orang yang dilaporkan tewas dalam bencana tersebut, film ini hanya mengangkat 4 orang karakter penting yang disorot tewas. Terlebih lagi, film ini juga menyajikan drama dan intrik yang ketat antara sesama pendaki melawan keganasan alam pegunungan yang tiada ampun tersebut.

Rob Hall (Clarke) memimpin pendakian grup Consultant Adventure ke puncak gunung paling tinggi di dunia, Everest. Meninggalkan istrinya, Jan (Knightley) yang sedang mengandung menjadi janji besar Rob Hall untuk bisa pulang dan kembali melihat anaknya. Beck Weathers (Brolin) adalah seorang yang terkenal yang berpengaruh pada amerika memutuskan bergabung mendaki gunung ini menggunakan jasa Rob. Begitu pula seorang jurnalis Jon Krauker (Kelly) dan seorang pengantar surat Doug Hansen (Hawkes) yang kembali untuk kedua kalinya memegang janji pada anak-anak SD untuk menjadi panutan bahwa orang biasa dan kecil seperti dirinya tidak takut memiliki mimpi yang tinggi untuk di gapai. Banyaknya para pendaki tahun itu membuat Rob juga harus bekerja sama dengan pemimpin grup sebelah, Scott Fischer (Gyllenhaal). Penuh dengan adrenalin yang tinggi, pendakian ini kian memburuk ketika awan gelap, badai es dan longsor gletser menghujam para pendaki saat mereka hendak turun gunung. Kerja sama tim sangat di butuhkan di saat seperti ini. Rob harus memutuskan berbagai keputusan dan ide spontan untuk bisa membawa tim nya turun dalam keadaan aman dan selamat.

Wednesday, 9 September 2015

Maze Runner: The Scorch Trials

Score: 7.5/10
"I'm tired to running" - Thomas

Salah satu dari film young adult post apocalyptic tahun ini yang di adaptasi dari buku serial Maze Runner karya James Dashner. Menggaet kembali kru spesial di film pertamanya, Wes Ball membawa film kedua ini jauh melenceng dari alur cerita novelnya. Meski begitu, bergabungnya para jajaran artis baru berkualitas seperti Aidan Gillen, Rosa Salazar, Nathalie Emmanuel dan Katherine McNamara di nilai sebuah langkah yang cukup bagus meski di film sebelumnya kebanyakan hanya menggaet pemain pendatang baru. Mengusung judul Maze Runner: The Scorch Trials, Wes Ball membawa film ini agar memiliki alur yang lebih teratur untuk persiapan film ketiganya yang di gadang akan kembali pada tracknya. Hasil rombakan ini juga tentunya sudah di setujui dan di bantu oleh Dashner sebagai sang original creator.

Melanjuti ending di film pertamanya, Thomas (Brien) dan para glader yang berhasil selamat di asingkan menuju sebuah bunker keamanan yang di kelola oleh WCKD. Thomas yang masih bingung akan tugas dan cara kerja WCKD yang cenderung terlalu tak beralasan untuk menemukan obat penyembuh dari penyakit Flare memutuskan untuk merencanakan pelarian dan menemui grup Right Arms yang konon menyediakan keselamatan bagi anak-anak kebal Flare seperti mereka. Pelarian mereka pun bermula dengan aksi kejar-kejaran di dengan Crank (manusia yang terkena virus Flare-berbentuk dan bersifat seperti zombie). WCKD pun tidak menyerah untuk menemukan Gladers yang membangkang itu dengan menyusuri area The Scorch, tempat dimana Thomas berpetualang untuk mencapai gunung dan menemukan Right Arms. Di tengah perjalanan, ia bergabung dengan grup manusia yang bertahan dari virus Flare yang di pimpin oleh Jorge (Esposito) hingga Thomas sempat tersesat berdua dalam lorong bawah tanah bersama dengan Brenda (Salazar). Reuni antara Aris (Lofland) dengan Harriet (Emmanuel) dan Sonya (McNamara) dari grup B terjadi ketika mereka berhasil menemukan Right Arms. Lalu, apa gerakan Thomas selanjutnya mengingat salah satu temannya berkhianat dan di culik kembali oleh WCKD?

Saturday, 5 September 2015

Descendants

Score: 7.0/10
"I can look into your eyes, and I can tell you're not evil." - Ben

Sebuah film dari dunia Disney Princess yang menceritakan tentang keturunan dari karakter jahat sebagai tokoh sentralnya. TV Movie dari Disney Channel ini kemudian di sutradarai oleh Kenny Kortega sebelum TV Series 'Descendants: Wicked World' yang berformat animasinya menyusul september ini sebagai kisah lanjutan dari movie nya itu sendiri. Di bintangi oleh artis-artis yang sudah tidak asing lagi dari tim produksi Disney, sebut saja Dove Cameron yang sukses dengan memerankan dua karakter sekaligus dalam tv series 'Liv & Maddie' akan menjadi tokoh utama anak dari Maleficent dalam Movie pembuka tv series 'Descendants' ini.

Beast (Payne) dan Belle (Tracy) menyatukan negeri yang di angkat dari kisah-kisah Disney ini dengan mengumpulkan para tokoh baik dalam satu kawasan yang disebut Auradon. Sedangkan mengurung para penjahat beserta komplotannya dalam sebuah kota pulau terpencil yang dilindungi kekuatan sihir dan tak ada jalan keluar agar para penjahat tidak bisa kabur. 20 tahun setelahnya, tibalah saatnya untuk Ben (Hope: anak dari Beast & Belle) berumur 16 tahun dan di naikkan tahta menjadi seorang raja Auradon. Perintah pertama Ben adalah mengajak anak dari Cruella de Vil (Robinson: 101 Dalmatians) Carlos (Boyce), Jafar (Jobrani: Aladdin) Jay (Stewart), Evil Queen (Najimy: Snow White) Evie (Carson), dan Maleficent (Cheniwwth: Sleeping Beauty) Mal Bertha (Cameron) untuk bergabung ke sekolah anak para tokoh baik di Auradon. Maleficent melihat ini sebagai kesempatan yang baik untuk bisa balas dendam pada negeri tokoh baik dengan menyuruh anaknya, Mal untuk memimpin pencurian tongkat sihir Fairy Godmother (Paxson) agar membebaskan para tokoh jahat dari pulau itu. Mal, Evie, Jay dan Carlos kini bimbang ketika mereka sudah merasa nyaman menjadi orang baik di sekolah Auradon. Kemanakah mereka akan memihak? mengikuti jejak orang tua mereka? atau bahkan keinginan hati terpencil mereka?